Kafilah Syuhada

Jihad never Die Mujahid Never Sleep . . .

Murtadnya anak kesayangan…

Ditulis oleh kafilahsyuhada di/pada 6 Maret 2009

bible1 *kejadian hampir serupa terjadi dengan anak budhe saya*

Sungguh, sebenarnya bukanlah hal mudah dan permasalahan ringan, melepas anak di rantau sendirian, tanpa pengawasan orang tua dan pengawalan. Apalagi bagi seorang gadis. Seringkali keteledoran orangtua dan sikap2 menyepelekan yg dilakukan orangtua trhdp hal2 yg dilarang syariat berbuah pahit. Misalnya dg membiarkan anak gadis mereka menuntut ilmu jauh dari rumah tanpa mahram, dan orangtua seratus persen percaya pada anak mereka. Dunia luar bukanlah dunia yg ramah, apalagi bagi mereka yg tak memilikibenteng keimanan yg kukuh. Sedang godaan ditawarkan di depan mata. Mungkin kisah dibawah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita, khususnya para orangtua untuk lebih berhati2 menjaga puta-putri kita, lebih2 jika harus mengizinkan mereka jauh dari rumah. Sebab bahaya kristenisasi mengintai dalam kesendirian mereka.

Begitulah yg terjadi pd putri pasangan Pak dan Bu Haji yg tinggal di sebuah kota di Jawa Tengah ini. Akhirnya mereka harus kehilangan putri bungsu kesayangan mereka Lintang, sebut saja demikian. Dia tumbuh dalam perlindungan dan kasih sayang orangtua dan kakak2nya. Dimanja dg segenap perhatian. Dan manakala Lintang harus pergi merantau saat diterima di PTN, ia sempat kaget dg perubahan kondisi tsb. Lintang mengungkapkan rasa sepinya pd orangtua dan saudaranya lewat surat atau telepon.

Bahkan tiap akhir pekan ia selalu pulang demi melepas kangen. Namun seiring waktu, Lintang mulai menemukan teman dan beradaptasi dg lingkungan barunya. Ia mulai jarang pulang atau memberi kabar ke rumah kecuali untuk hal2 penting. Apalagi setelah Lintang ditawari kerja oleh seorang teman mahasiswanya yg kebetulan satu kost, di sebuah lembaga pendidikan. Di sinilah petaka itu dimulai . Lintang berkenalan dg anak didik yg juga mahasiswa di Universitas yg sama. Hubungan yg semula biasa saja, berubah menjadi hubungan asmara. Meski pd akhirnya Lintang tahu Bayu beragama kristen, tak membuat cinta Lintang surut. Apalagi Bayu begitu perhatian dan sangat sayang padanya. Semua perhatian Bayu yg sangat memanjakan Lintang, seolah mengganti perhatian dan kasih sayang keluarga selama ia jauh dirantau. Tak berhenti sampai disitu, Lintang yg mabuk cinta tak segan mengantar Bayu ke gereja dg berjilbab. Lama kelamaan akidah Lintang terkikis juga. Beberapa teman yg mengetahui hal itu berusaha mengingatkannya. Namun Lintang seolah tak peduli. Teman satu kamar Lintang pernah menemukan Injil yg disembunyikan di bawah tempat tidurnya. Anehnya masih berjilbab .

Mungkin ini untuk menutupi hal yg sebenarnya. Teman2 Lintang prihatin melihat hal itu. Mereka tahu yg sebenarnya, Lintang mulai jarang tadarus dan shalat. Bahkan selebaran dan bacaan kristen banyak dikoleksi Lintang, ia sembunyikan di balik baju2 di lemari pakaian. Tak tahan melihat Lintang goyah akidahnya, beberapa rekannya berinisiatif memberitahu keluarganya. Ayah dan ibunya sangat shock, apalagi mereka keluarga terpandang di masyarakat dan dikenal sangat religius.

Dengan menahan diri, orangtuanya menanyai Lintang ttg kebenaran kabar tersebut. Namun Lintang mengelak dengan berdalih ini dan itu. Semisal mengatakan bahwa Injil itu titipan teman dan meyakinkan bahwa kabar itu bohong. Tak kehilangan akal, orangtua Lintang meminta pamannya utk memata-matai Lintang. Bagai disambar petir, orangtua menerima kabar dari sang paman bahwa Lintang telah dibaptis di Gereja Pantekosta di kota asal Bayu. Tak urung, tentu hal itu membuat keluarga marah besar dan terpukul .

Segala cara dilakukan agar Lintang kembali ke Islam. Walhasil, usaha tsb gagal total. Lintang terlanjur buta mata hatinya. Bahkan Lintang mengatakan bahwa Kristen sama saja dg Islam. Hanya saja beda cara ibadahnya. Lintang tak sungkan mengatakan bahwa ia makin merasa damai setelah masuk Kristen, apalagi dlm ajarannya agama ini menebar cinta dan kasih. Na’udzubillah. Makin kalang kabutlah keluarga besar Lintang, setelah ia mengabarkan niatannya menikah dg Bayu. Hancur lebur hati kedua orangtuanya .

Ultimatum terakhirpun diberikan. Lintang harus memilih antara keluarga besarnya atau Bayu. Jika ia tetap memilih Bayu da tak keluar dari agama barunya, kaluarga akan menganggap Lintang tak pernah ada. Lintang tak mundur. Bahkan kian bersemangat, apalagi ia mengaku memperoleh dukungan dari teman seimannya, juga keluarga Bayu yg sangat gembira menerimanya, serta siap menampung Lintang jika diusir dari rumah. Demikianlah, Lintang akhirnya menikah dg Bayu yg aktivis gereja, tanpa restu orangtuanya.

Bahkan ia rela kehilangan akidahnya serta keluarga besarnya demi Bayu. Saat ini ia telah memiliki anak dan ikut aktif di gereja. Apa yg terjadi pd Lintang, bisa saja terjadi pd Lintang2 yg lain, anak ataupun keluarga kita. Karena itu seharusnyalah kita selalu waspada dan selalu mengawasi anggota keluarga kita, dg siapa mereka bergaul, lingkungan seperti apa yg ditinggalinya, sebab bahay kristenisasi mengancam mereka dg beragam cara. Termasuk dg kedok cinta. Para misionaris tak pernah berhenti berusaha mencari domba2 baru untuk masuk perangkapnya. Kewaspadaan kita pd misi ini, setidaknya membantu mempersempit gerak mereka dan menyudahi kisah sedih pd orangtua yg terpaksa kehilangan anak mereka karena misi kristenisasi.

Wallahu’alam.

(Sumber : @myquran >> Majalah Nikah)

3 Tanggapan ke “Murtadnya anak kesayangan…”

  1. teguh rasyid berkata

    innalillahi..

  2. ayuk berkata

    ya Allah, 2 bulan yang lalu saya juga mendapat kabar dari teman bahwa teman sekelas kami juga telah murtad mengikuti agama kekasihnya dan menikah di gereja. maka kamipun tidak menghadiri pernikahannya. Maha suci Allah, semoga kita semua dilindungi Allah dari bahaya kemurtadan… amin

  3. abinehanafi berkata

    dari pada menghabiskan uang untuk kampanye dan pasang baliho besar-besat, ada baiknya parpol-parpol yang mengaku memperjuangkan Islam memasukkan agenda mencegah pemurtadan dalam program kerjanya

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>